beranda » Artikel

Bercermin ke negeri Ahmadinejad

Monday, August 25, 2008 WIB

Oleh : Teungku Imam Syuja**

Terus terang, saya kagum pada Presiden Iran Ahmadinejad dalam aspek sederhana hidup. Walaupun dia seorang presiden, hidupnya boleh dikatakan bersahaja untuk ukuran seorang kepala negara. Kekaguman saya pada negeri ini semakin terkuak ketika saya mendarat di negeri padang pasar itu pada 26 Oktober 2007 selama sepekan. Ini merupakan kunjungan balasan dari Parlemen Iran yang sebelumnya ke Jakarta pada 2007.

Dalam kapasitas sebagai Ketua Delegasi Grup Kerja Sama Bilateral DPR RI Parlemen Iran dengan tujuh anggota, kami bertemu dengan Wakil Presiden Iran, berdialog dengan parlemen Iran, dan sejumlah agenda lain. Jika anggoata dewan di negeri Pancasila sering mengenakan jas yang harganya di atas Rp1 juta, sebaliknya mereka lebih sering mengenakan baju berjubah. Saya kaget, negeri yang jelas-jelas menyatakan berasas Islam, ternyata memiliki perwakilan dari Yahudi. Ini memperlihatkan, Kepala Negara/Pemimpin Tertinggi Agama Ayatullah Seyed Ali Khomenei menampung aspirasi kaum Yahudi yang hanya 0,7 persen dari 70 juta jiwa rakyat Iran.

Tidak Macet

Siapa pun tahu, Negeri Kaum Syiah ini mulai bergeliat usai Ayahtullah Khomeini menjatuhkan rezim Syah Pahlevi pada 11 Februari 1979. Khomeini yang tinggal di Perancis rajin mengirim kaset-kaset pidato rekamannya ke tanah lelehurnya. Melalui proses kampanye yang bertubi-tubi serta sikap muak rakyat kepada presidennya, maka hancurlah rezim otoritas Syah Pahlevi.

Revolusi Iran ini bergaung ke seluruh pelosok dunia hingga tiba Indonesia yang antara lain semakin ramai kaum hawa berjilbab. Bertahun-tahun negara produsen minyak terbesar di dunia ini hidup di bawah ketiak negara boneka Amerika Serikat. Hancurnya tirani itu melahirkan keinginan untuk mandiri terutama dari belahan dunia barat.

Jika di kota besar-besar di Indonesia seperti Medan, Jakarta, Surabaya atau Makassar macet itu sudah sebuah rutinitas, tidaklah halnya di Taheran. Saya tidak menemukan kemacetan. Bukan karena rakyat tidak sanggup beli mobil. Justru penduduk lebih memilih kereta api bawah tanah, bus umum dan lain-lain sehingga jalan-jalan besar tidak sesak dengan mobil pribadi. Salah satu alternatif mengurangi kemacetan di jalan dengan memperbanyak angkutan-angkutan publik yang memadai. Dengan demikian, warga pun akan memilih transportasi umum yang lebih murah.

Resolusi Nuklir

Hingga kini, Iran masih diselimuti oleh Resolusi 1747 Dewan PBB yang melarang mereka menghasilkan energi nuklir. PBB dalam hal ini Amerika khawatir energi ini digunakan untuk persenjataan. Itulah Amerika. Negara lain diintip-intip, dilarang mengembangkan energi nuklir, tapi mereka sendiri mengembangkan energi ini. Sikap Pemerintah Indonesia malah mendukung resolusi yang menyebabkan Irak tersendat-sendat berjalan. Namun sebaliknya, anggota DPR RI mendukung perkembangan nuklir untuk kemanusiaan. Posisi ini menjelaskan, tidak selamanya sikap Pemerintah Indonesia akan seirama dengan sikap DPR RI. Saya mengartikan ini cermin demokrasi.

Tiga Faktor Iran Maju

Jika ditelik dari usia pembangunan antara Iran dengan Indonesia, tidaklah begitu jauh terpaut. Namun Iran lebih cepat melesat daripada kita. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Selama sepekan mengamati dan bertanya, mengapa Iran bisa berkembang, paling tidak ada tiga komponen yang patut kita ikuti. Pertama, tantangan mereka usai lepas dari cakar Amerika menyebabkan warga harus bergerak cepat. Tantangan melahirkan gagasan untuk maju. Hal ini mengingatkan saya ketika ke Jepang, mengapa negara ini bisa maju usai dibom pada 6 dan 9 Agustus 1945? Salah satu faktornya, efek dari bom itu menjadi tantangan untuk bangkit. Jadi jangan takut menghadapi tantangan, namun bagaimana mengolah tantangan menjadi peluang untuk mandiri.

Kedua, pemerintah dan warga memiliki komitmen untuk maju. Jadi sebutan kita bisa bukan sekadar komat-kamit. Namun hal ini benar-benar dihayati. Hal ini bisa  terwujud karena rakyat pun melihat apa yang dilakukan oleh presiden. Tak diragukan lagi, cinta itu muncul jika muncul perasaan senasib. Ahmadinejad merasakan warganya yang hidup nestapa yang diterapkan dengan mengenakan jas yang sudah usang atau menolak fasilitas negara yang dianggap berlebihan. Kita butuh pemimpin yang satu kata antara ucapan dan tindakan.

Ketiga, warga Iran memiliki sumber daya manusia yang siap pulang ke negerinya. Beratus-ratus intelektual setelah menggali ilmu di Amerika atau Eropa pulang ke kampung halamannya. Tidak ada jeritan gaji sedikit atau fasilitas yang minim dibandingkan bekerja di Eropa atau pusat riset di luar negeri. Satu hati satu jiwa menyebabkan Irak lebih cepat bergerak dalam khazanah yang antara lain di bidang nuklir yang amat ditakuti oleh Amerika dan kroninya.

Akhirukallam, kita pun bisa berkembang seperti Iran jika ada komitmen bersama. Rakyat merindukan pemimpin yang hidup sederhana yang dibuktikan dengan perilaku. Kisah dari mulut ke mulut tentang kegigihan Ahmadinejad memajukan negaranya merupakan amunisi yang dahsyat. Bukan sebaliknya, bisik-bisik sesama warga terhadap pejabat atau pemimpinnya yang serakah atau munafik menjadi kampanye bersama menuju kehancuran. Tentu kita pilih pemimpin yang diucapkan dan dilakukan satu kata dan satu kalimat. Kadangkala kita harus bercermin pada cermin yang bersih.

**Penulis adalah anggota DPR Fraksi PAN asal Aceh

Leave a Reply