Oleh : Didi Asmadi**
Sungguh mengharukan bagi kita semua setelah melihat apa yang ditayangkan oleh seluruh media cetak dan elektronik dalam dan luar negeri tentang proses penyerahan serta pemusnahan senjata milik TNA GAM yang telah dilakukan pada beberapa tempat di wilayah Banda Aceh, Bireuen dan Pidie.
Apa yang dilakukan GAM dalam beberapa hari ini, patut diacungi jempol dan rasa salut atas keikhlasan mereka dalam menyerahkan peralatan tempurnya yang menurut beberapa mantan anggota GAM senjata-senjata tersebut sudah merupakan bagian dari hidup mereka (ibarat istri-red) dalam melakukan pengamanan diri selama berada di hutan-hutan Aceh. Para mantan anggota TNA tersebut ternyata benar-benar menunjukkan dan menjalankan komitmen perdamaian ini dengan menyerahkan senjata mereka, bahkan mereka menyerahkan senjata lebih dari ketentuan penyerahan dan pemusnahan senjata tahap I sebesar 25 % dari seluruh kekuatan senjata GAM yang tertuang dalam nota kesepahaman kepada AMM. Proses ini semua menunjukkan bahwa kita semua telah cukup lelah hidup dalam suasana konflik ini, dan kita semua ingin ikut serta dalam membangun kembali kondisi perdamaian Aceh ke depan paska Tsunami ini. Mereka (GAM-red) benar-benar mengetahui apa keinginan rakyat Aceh pada umumnya yang selama ini sudah sangat sulit dalam menjalankan kehidupannya akibat dari konflik bersenjata dan musibah gempa/Tsunami pada akhir tahun lalu.
Dan kita semua juga berharap, proses ini dapat berlangsung terus ke tahap selanjutnya dimana GAM mau terus untuk ikhlas menyerahkan senjatanya kepada AMM, dengan mengajak semua pihak untuk menahan diri dalam menyikapi segala persoalan yang timbul dan menyelesaikannya dengan jalur dialog serta kepala dingin. Kita juga berharap kepada setiap elit di pusat jangan asal dalam memberikan pernyataannya mengenai perdamaian Aceh ini. Para elit sebaiknya datang dan menyaksikan apa yang yang sedang terjadi paska penandatangan damai ini dan melihat langsung apa yang dibutuhkan rakyat Aceh pada saat ini. Tidak ada alasan menyatakan bahwa perdamaian Aceh akan menyebabkan NAD akan berpisah dari NKRI, kecuali bagi para elit yang memiliki kepentingan di Aceh dengan tetap memelihara konflik ini sebagai lahan untuk mengeruk keuntungan pribadi di pusat.
Ketika pihak GAM dan TNI sepakat untuk menganggap siapa saja paska perjanjian nota kesepahaman damai ini ditandatangani membawa senjata, membuat keonaran dan melakukan intimidasi, pemerasan terhadap rakyat, maka GAM dan TNI menganggapnya sebagai musuh bersama yang harus segera ditangani dengan serius. Namun ketika ada elit nasional yang menginginkan Aceh tidak damai dengan menyatakan penolakan mereka terhadap MoU ini, maka kita semua baik GAM, TNI dan komponen sipil Aceh harus menyatakan juga bahwa mereka adalah musuh bersama kita yang jelas-jelas tidak ingin Aceh damai.
Apa yang mereka (para elit-red) sampaikan sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini mereka sampaikan ke masyarakat Indonesia khususnya Aceh tentang penyelesaian konflik Aceh melalui upaya-upaya dialog. Karena selama ini apa yang mereka lakukan ketika memimpin bangsa ini, darah, desingan peluru, penculikan dan pembunuhan rakyat sipil Aceh dan gugurnya prajurit TNI di Aceh tidak pernah terselesaikan begitu juga persoalan penegakan HAM di negeri ini. Namun ketika pemerintahan SBY-JK sudah sedikit mampu merendam persoalan ini, mereka malah menyalahkan pemerintah salah mengambil langkah dalam proses damai ini yang akan mengakibatkan terjadinya efek Aceh akan lepas dari NKRI, dan ada efek domino ke daerah lain yang bakal menginginkan seperti Aceh sekarang. Ini jelas ada upaya-upaya untuk menggagalkan kehidupan damai di Aceh. Para elit ingin membuat rakyat Aceh tetap bodoh, ditipu serta membangkitrkan kemarahan rakyat terhadap pemerintah pusat sehingga akan tetap ada konflik vertikal antara pemerintah dengan rakyatnya.
Terakhir, kami dari yang mewakili masyarakat sipil Aceh mengajak dan tetap kritis dalam membangun serta menjaga perdamaian ini untuk tetap bertahan yang salah satunya adalah dengan tidak mudah terhasut dan emosional dalam menyikapi segala pernyataan dan persoalan yang timbul ditengah-tengah masyarakat yang disebabkan oleh pihak-pihak baik pribadi, kelompok yang itdak menginginkan ?ACEH DAMAI?. Mari sekali lagi kita semua menyuarakan siapa saja yang tidak ingin Aceh damai, maka ia akan menjadi musuh bersama kita (GAM, TNI dan masyarakat sipil Aceh) semua yang harus segera diakhiri perannya dalam merusak perdamaian ini.
** Peniliti ACSTF bidang Jaringan Masyarakat Sipil ACSTF


Leave a Reply