beranda » Artikel

Pergulatan Menjadi Nomor Satu

Monday, June 15, 2009 WIB

aryosoleh: Aryos Nivada**

Gegap gempita pesta demokrasi di depan mata. Hanya satu tujuan memilih pemimpin  Indonesia yang dapat membawa perubahan bagi negeri ini. Banyak hal menarik dari para kandidat calon presiden Indonesia kali ini. Tapi siapakah yang menjadi juaranya dan orang nomor satu berpengaruh?. Berkaitan itulah penulis mengajak untuk memahami kandidat para calon presiden, agar tidak salah memilih.

Sangat bingung ketika seorang teman bertanya kepada saya, ”Kamu pilih siapa presidennya,”, kemudian saya menjawabnya nanti deh, karena harus memahami benar tokohnya. Akan tetapi disisi lain, hati kecil ini berkata dan berontak ”Saya harus menetapkan pendirian dan saya harus menentukan arah perubahan bangsa melalui memilih”. Maka demi arah perubahan yang jelas, seluruh masyarakat harus menentukan pilihan. Nah bagaimana dengan pilihannya bila kalah. Jiwa menerima harus dikedepankan dan kita turut serta berpartisipasi memberikan kontribusi dalam segala hal kepada kandidat yang terpilih kelak.

Agak lucu memang demokrasi yang kita lalui saat ini. Mengapa begitu?, karena koalisi dari para partai lebih dibutakan hanya untuk memperoleh kekuasaan. Koalisi-koalisi dibangun bukan didasarkan atas kebutuhan rakyat, tetapi hanya diperuntukan bagi elit-elit di partai tertentu saja. Tidak ada satu pun partai politik yang menjelaskan kepada publik platform atau program koalisi partai, seperti Golkar dengan Hanura, PDIP dengan Gerinda, Demokrat dengan PAN, PKB, PKS, dan partai pendukung lainnya, sebagai pendidikan politik bagi masyarakat Indonesia. Hal menarik lainnya, yaitu selama ini kita masih menganut sistem multipartai tidak terbatas. Koalisi adalah bola liar yang menggelinding tanpa menemukan pola. Setiap partai, setiap saat bisa berganti, berkoalisi dengan siapa saja, tanpa arah dan prinsip yang dipegang. Hanya mengejar kesempatan untuk terlibat dan dilibatkan dalam oligarki kekuasaan semata.

Bila dikorelasikan argumen saya di atas, tentunya ujung-ujungnya hanya kepentingan partai saja, bukan kepentingan rakyat yang harus diperjuangkan. Berpijakan terhadap itulah partai-partai mampu berkoalisi. Apa lagi yang menarik dari pemilihan presiden ini. Masyarakat disuguhkan dengan tontonan perilaku para kandidat yang saling melontarkan perkataan guna memojokan, menghina, dan menyindir kandidat lain melalui media elektronik maupun media massa. Mengapa negara ini tidak bisa berdemokrasi secara santun. Sedangkan sejarah kita ketika era 70-an, Perdana Menteri Muhammad Nasir, dirinya  menunjukan bagaimana perilaku berdemokrasi secara santun itu, contoh kecilnya tidak menjelek-jelekan ataupun mengintimidasi kandidat lainnya.
***
Kondisi kekinian demokrasi dimultitafsirkan berbeda-beda, dimana si A dan si B berbeda dalam mengkonstruksikan demokrasi. Dampaknya apa yang terasa dalam ajang pemilihan presiden (pilpres) ini. Kita semua bisa menilainya karena masyarakat kita sebagian besar candu akan politik. Ada resep bila kandidat presiden ingin menang dan itu harus menjadi perhatian serius dari para kandidat presiden. Menurut saya ada 6 (enam) hal yang menjadi perhatian serius dari para kandidat bila ingin menang dalam pemilihan. Apa itu?, pertama image, kedua media, ketiga mesin partai, keempat market, kelima uang, terakhir keenam momentum.

Bila para kandidat memiliki semuanya, maka peluang menang menjadi lebih besar. Ada satu hal yang harus dicari dari kandidat, yaitu momentum. Mengapa yang enam begitu penting. Jelas Megawati menang, karena momentumnya reformasi dan terzalim, SBY menang karena jiwa empati dan simpatik yang mengarah kepada dirinya lantaran terintimidasi oleh Megawati Soekarnoputri, Aabdurrahamn Wahid (Gusdur) jadi presiden karena poros tengah bersatu.

Apalagi yang menjadi lebih menarik dan unik pada Pilpres kali ini. Adu strategi mantan petinggi militer akan mewarnai khasanah pemilihan presiden nantinya. Siapa yang jitu tentunya dialah juaranya. Bila kita bedah latar belakang dari 3 (tiga) kandidat presiden semuanya mewakili unsur sipil dan militer. Ini hal baru dari pesta pilpres bagi rakyat Indonesia. Bisa jadi suatu kombinasi yang masih dibutuhkan dalam budaya politik negeri ini. Anehnya politik aliran berbasis agama kian meredup, tidak menampak khas pada pemilu sebelumnya. Ini menunjukan pergeseran budaya politik dari negeri terkenal subur ini.

Bila diatas menjelaskan dari sudut pandang adu strategi. Hal lainnya yaitu merujuk kepada kesukuan untuk kandidat calon presiden, hanya Jusuf Kalla (JK) yang berasal dari luar pulau Jawa. Akan tetapi, sejarah menunjukan bahwa presiden lahir dari tanah Jawa. Apakah JK bisa mendobrak budaya politik itu?. Kenapa ya, calon kandidat presiden di luar Jawa dianggap dari elit politik tertentu tidak ada nilai kekuatan politiknya. Sungguh aneh demokrasi di Indonesia yang masih menerapkan budaya jelek demokrasi tersebut.

Menurut penulis terdapat satu masalah besar yang belum tertuntaskan, bahkan tidak memiliki political wiil dari para kandidat calon presiden terhadap agenda – agenda Hak Asasi Manusia (HAM). Semua kandidat tutup mata seakan-akan sudah selesai, bahkan dari semua kandidat terindikasi telah melakukan pelanggaran HAM. Tidak hanya itu saja agenda pendirian KKR bagi Aceh pun kian disurutkan, bahkan ditenggelamkan. Jelasnya mereka semua tidak memiliki komitmen akan penyelesaian HAM masa lalu. Bila tidak diselesaikan akan di khawatirkan menimbulkan percikan – percikan konflik nantinya. Intinya rakyat butuh keadilan, bukan fatamorgana janji – janji belaka.
***
Disisi lain agak terhenyak dipemikiran saya, mengapa?, karena para kandidat presiden tidak satupun berasal dari golongan muda. Rata-rata dari ketiga kandidat sudah menua, seharusnya pintu regenerasi dilakukan dari kaum tua, jangan-jangan masih terlabelkan akan ketakutan lahan basahnya dipanggung politik dikuasai kaum muda. Bagi saya ini menjadi tanda tanya besar. Ada apa dengan kaum muda? Apakah sudah dibutakan dengan gemerlap dunia ataukah idealisme yang sudah tergadaikan?. Kemungkinan terakhir, apakah kaum muda tidak sanggup bersaing dengan kaum tua dari segi intelektual?.

Paragraf terakhir dari tulisan ini yang ingin saya katakan. Siapa pun dari ketiga kandidat yang menang, bawalah bangsa ini menuju perubahan yang menaungi dari keinginan rakyat, bukan menaungi kepentingan elit penguasa. Jadikan bangsa ini sejajar dengan bangsa lain dalam segala aspek, angkat marwah bangsa ditingkat internasional. Selanjutnya, tegakan keadilan bagi semua golongan tanpa membedah kesukuan maupun agama. Kita lihat dua bulan lagi siapakah pemimpin kita selanjutnya, tentunya setelah kurang lebih 250 juta rakyat Indonesia memberikan hak suaranya dibilik suara.

**Penulis adalah Aktivis ACSTF

Leave a Reply