beranda » Artikel

Rakyat Aceh Sebagai Inspirasi Dunia

Monday, June 20, 2005 WIB

juandaOleh: Juanda M.Djamal**

Dalam kunjungan terakhir ke Aceh Bill Clinton, sebagai utusan khusus PBB untuk Tsunami, mengungkapkan harapannya agar rakyat Aceh menjadi inspirasi dunia. Rakyat Aceh yang sudah menjadi korban terparah dari salah satu bencana terbesar, juga harus menjadi simbol dari kegigihan bagi membangun masa depan.

Orang Aceh adalah korban tapi mereka harus bangkit dan merajut lagi masa depan yang lebih baik, bukan korban yang justru menjadikan diri penuh ketergantungan dan semakin menjadi terpuruk. Dalam dunia yang penuh dengan aksi teror, perang dan kemiskinan, Clinton berharap Aceh mungkin bisa menjadi gambaran sebaliknya (opposite views) dari orang-orang yang hidup bersemangat, toleran dan membangun kedamaian.

Harapan Clinton adalah tidak berlebihan. Hampir bersamaan dari kunjungan Clinton ini, Martunis, seorang anak Aceh, diundang ke Portugal dan menjadi simbol dari seorang anak korban Tsunami yang selamat dan ingin membangung hidup baru. Tidak lama sebelumnya, seorang anak muda Aceh bernama Azhari mendapatkan salah satu penghargaan sastra dunia di Belanda bernama Free World award 2005. Suatu penghargaan yang berkaliber terhadap para sastrawan di dunia. Seperti banyak orang Aceh lainnya, Azhari tidak lagi punya sanak saudara.

Di bulan-bulan awal sesudah Tsunami seorang guru perempuan Aceh dari Calang, Dina Astita, dinobatkan menjadi 100 orang paling berpengaruh versi majalah internasional TIMES. Dia juga menjadi simbol dari mereka yang didera musibah Tsunami, tapi tidak pernah menyerah kalah dalam hidupnya.

Di Aceh sebenarnya ada ribuan Martunis, Azhari dan Dina Astita. Tidak cukup tropi penghargaan, tidak cukup halaman koran untuk menceritakan semangat hidup baru mereka. Mereka ada di kamp-kamp pengungsian, di pelosok-pelosok desa, di banyak tempat di bumi Aceh. Semangat rakyat Aceh ini adalah cerita yang dibanggakan oleh masyarakat dunia. Inilah alasannya penghargaan dari masyarakat internasional ini terhadap rakyat kita.

Aceh juga telah menjadi inspirasi dari berbagai ethnik, agama dan warna kulit untuk tidak saling membeda-bedakan dirinya, tapi bisa saling membantu. Di Aceh sekarang ada ratusan warga negara asing dari berbagai bangsa, agama dan warna kulit. Sejauh ini tidak ada banyak kekawatiran bahwa mereka tidak diterima oleh orang lokal. Tidak ada penolakan terhadap bantuan dan kerja-kerja mereka. Ini adalah inspirasi lainnya bagi rakyat didunia dimana banyak perang dan kebencian karena perbedaan agama, warna kulit dan suku, tapi di Aceh mereka justru saling membantu bagi membangun masa depan.

Aceh paska Tsunami adalah Aceh yang berbeda. Belum pernah dalam sejarah Aceh, nama Aceh begitu dikenal dunia, bahkan jika dibandingkan dengan masa kejayaan zaman Iskandar Muda sekalipun. Bencana yang besar, korban dalam jumlah besar, tapi juga telah membesarkan nama Aceh. Tragis memang, karena nama Aceh menjadi besar diatas kematian ratusan ribu penduduknya, diatas kemalangan ratusan ribu mereka yang tanpa rumah dan sanak keluarga.

Tapi penderitaan inilah yang mengerakkan seorang anak sekolah di Jerman, seorang ibu muda di Inggris, seorang pedagang kaki lima di Turki dan tempat-tempat lainnya didunia untuk menyumbangkan sebagian uang saku, uang belanja keluarga, uang jajan mereka bagi korban Tsunami Aceh. Beberapa saat sesudah Tsunami, wajah rakyat Aceh dan berita tentang mereka ada disetiap rumah orang-orang di seluruh dunia, dari pelosok desa di Rusia, sampai rumah Mewah di New York. Aceh telah mengerakkan dan menginspirasikan mereka bahwa hidup harus saling tolong menolong, tidak membedakan agama, suku dan warna kulit. Walaupun sekarang jauh berkurang tapi sesekali berita Aceh ini tetap mendatangi rumah-rumah mereka dan terus mengerakkan mereka untuk terus menyumbangkan apa yang ada.

Tantangan terbesar dari rakyat sekarang ini adalah menjadikan musibah ini bagi menbangun fondasi hidup masa depan yang lebih baik. Jika bencana Aceh telah menjadi inspirasi banyak orang lain didunia, bencana ini juga harus menjadi inspirasi bagi rakyat Aceh sendiri untuk membangun Aceh baru. Karena pada akhirnya tidak banyak yang bisa dilakukan oleh orang lain terhadap kita, tanpa kita sendiri berjuang merubahnya.

Positifnya bencana Tsunami telah menjadi inspirasi para pihak yang bersenjata di Aceh untuk sepakat duduk dan membangun perdamaian. Proses damai Helsinki adalah salah satu hasil dari Tsunami. Bagaimanapun mencapai perdamaian ini tidaklah akan mudah, tapi mudah-mudahan akan mampu secara bertahap merubah kondisi kita. Proses sekarang bisa menjadi untuk berakhirnya suatu konflik yang sudah cukup panjang ini. Proses rekonstruksi Aceh akan jauh lebih maksimal dalam kondisi Aceh tanpa pertikaian senjata.

Negatifnya, di Aceh bukan hanya Martuniz, tapi banyak juga yang opportunis. Bukan hanya Azhari, tapi banyak juga yang iri, bukan hanya dina Astita, tapi banyak juga yang dusta. Kaum opportunis, iri dan dusta yang memanfaatkan kesempatan bukan berpikir bagi membangun Aceh baru yang lebih baik, tapi memperkaya diri. Ada banyak elite dan orang kaya yang mencari untung dari kondisi yang ada. Di saat penduduk dunia ramai-ramai menyumbangkan harta bendanya untuk pembangunan kembali Aceh, tapi elite Acehnya justru berpikir mencari uang dari bencana.

Kaum opportunis memang akan selalu ada dimana-dimana, itu tidak menjadi hal unik Aceh. Tapi selama mayoritas rakyat Aceh adalah kaum yang gigih, rajin dan punya komitmen moral yang tinggi, maka Aceh akan terus menjadi serambi yang memberi inspirasi, ide and semangat kegigihan bagi diri mereka sendiri dan bagi dunia.

** Penulis Merupakan Sekretasis General Achehnese Civil Society Task Force
                            

Leave a Reply