beranda » Artikel

Ramadhan sebagai Bulan Damai

Tuesday, June 20, 2006 WIB

didiOleh : Didi Asmadi**

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa ibadah puasa Ramadhan yang pada saat ini sedang kita jalankan adalah suatu ritual yang wajib dikerjakan oleh seluruh orang-orang yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah SWT. Ramadhan merupakan suatu bulan yang sangat suci dan penuh makna jika dibandingkan dengan sebelas bulan lainnya. Dalam bulan ini kita semua diberi kesempatan yang sangat luas oleh sang Pencipta untuk mengabdi dan memohon keampunan dan limpahan rahmat Dari-Nya.

Dalam bulan Ramadhan ini kita semua melakukan ibadah yang memerlukan suasana kedamaian jiwa yang sepenuhnya. Jika dikaitkan dengan proses damai yang terjadi di Aceh saat ini, maka saat ini lah suasana kedamaian jiwa akan lebih mudah didapatkan, dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Rakyat Aceh sudah cukup lama hidup dengan tidak memiliki kenyamanan dan kedamaian jiwanya dalam melaksanakan segala aktifitas termasuk rutinitas dalam melaksanakan ibadah.

Pada tahun-tahun sebelumnya kita sendiri dapat melihat dan merasakan bagaimana masyarakat kita tidak dapat pergi ke mesjid, meunasah dikarenakan suatu keadaan yang tidak kondusif, nyawa terancam, tiada kedamaian dalam ibadah. Dalam Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, dimana kita memerlukan kedamaian dalam melakukan ibadah tapi letusan senjata, ledakan bom, penculikan dan pembunuhan membuat kita semua merasa takut untuk menjalankan ibadah yang sangat dinanti-nantikan ini.

Namun berbeda dengan Ramadhan kali ini, yaitu suasana yang hadir cukup meriah dan semarak dalam menyambut bulan ini, orang dengan tenang dan mudah melakukan ibadah dan tradisi-tradisi ramadhan yang biasa dilakukan seperti taddarus, dalail khairat dan aktifitas lainnya baik di mesjid-mesjid, meunasah yang ada di kampung-kampung sampai waktu larut malam. Orang berani keluar dan pulang larut malam tanpa ada rasa takut, was-was terhadap swepping, tembakan, penculikan dan pembunuhan.

Ini semua terjadi karena rahmat dan keridhaan Allah SWT kepada kita semua dengan membuka mata hati dan kedewasaan berfikir kita semua untuk duduk bermusyawarah mencapai suatu mufakat agar dapat memahami dan menerima betapa pentingnya hidup berdampingan dengan damai, penuh dinamika, perbedaan pandangan dan pendapat. Kita semua harus memiliki semangat untuk menjaga komitmen ini agar terus terjaga dan membangun sebuah budaya baru yaitu setiap persoalan harus diselesaikan dengan dialog (musyawarah). Kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah tapi justru akan menambah persoalan yang baru salah satunya adalah dendam.

Perundingan damai yang dibangun antara Pemerintah RI- GAM merupakan suatu pembentukan peradaban baru kehidupan zaman ini dalam menyelesaikan suatu masalah, perbedaan pandangan yang timbul. Proses ini patut kita syukuri dan kita dukung sepenunhya dengan peningkatan ilmu, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Momentum Ramadhan ini dapat dijadikan sebagai suatu sarana untuk belajar meningkatkan rasa tenggang rasa, kasih sayang serta tolong menolong dalam kehidupan ini, kita tidak dapat hidup tanpa ada orang lain, kita semua harus hidup berdampingan. Ini baru akan tercipta dan terwujud jika kehidupan ini dihiasi dengan kedamaian, kebebasan berfikir, saling menghargai perbedaan pendapat dan cara pandang tanpa mengedepankan nilai-nilai emosi dan ego. Dengan ibadah puasa Ramadhan ini merupakan kesempatan untuk menciptakan itu semua, selagi kita semua masih diberi kesempatan hidup (umur) oleh Sang Khalik untuk berbuat yang terbaik dan bermanfaat bagi umat manusia.


** Peniliti ACSTF bidang Jaringan Masyarakat Sipil ACSTF   

Leave a Reply