Banda Aceh - Pembangunan Aceh selama 4 tahun terakhir pasca Tsunami dan Konflik telah mengalami kemajuan yang cukup pesat, Proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah dilakukan oleh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD Nias telah dilakukan semaksimal mungkin selama 4 tahun terakhir. Namun menjelang akhir tugas BRR April mendatang pembangunan Aceh masih harus dilanjutkan.
Dalam sambutannya di Seminar Nasional Pembangunan Kebudayaan Aceh yang berlangsung di Anjoeung Mon Mata Banda Aceh, Senin (23/03) Wakil Gubernur Muhammad Nazar mengatakan “ketertinggalan pembangunan Aceh pada masa sekarang dan kedepan akan lebih disebabkan pada pengelolaan sumber daya di masing-masing daerah baik sumber daya manusia (SDM) dalam kapasistas pelaksanaan pemerintahan baik eksekutif dan legislatif. “ ujar Wagub.
Wagub Juga menambahkan “ Berbagai kendala yang terjadi menyebabkan keterlambatan dalam pengesahan APBA tahun kemarin, tapi tahun ini Pengesahan Awal APBA 2009 diharapkan daya serapnya bisa kita laksanakan segera. Seperti penambahan APBA 2009 sekitar RP. 3,4 Trilliun itu kita sudah dimasukan dalam berbagai sektor pengembangan Pembangunan Aceh” tambah Wakil Gubernur.
Dalam seniamar ini turut hadir Dirut Utama Perum BULOG, Mustafa Abubakar sebagai keynote speaker pada Seminar Nasional ini menyampaikan “seminar ini menjadi penting, karena dilaksanakan dipenghujung masa tugas BRR, lembaga yang dibentuk presiden pada 17 April 2005 untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah bencana gempa bumi dan tsunami, yakni Aceh dan Nias, Sumatra Utara.
Dari seminar ini diharapkan akan lahir pemikiran-pemikiran cemerlang serta rekomendasi strategi bagaimana idealnya Aceh dibangun pasca BRR dan bagaimana pula kebudayaan Aceh dikembang-majukan, tanpa meninggalkan corak aslinya yang progresif dan islami. Aspek kebudayaan dalam hingar-bingar pembangunan Aceh pasca tsunami tentu saja perlu mendapat perhatian dankajian khusus agar pembangunan yang berlangusung di provinsi ini jangan sampai kering dari sentuhan cultural dan spiritual, karena terlalu terfokus pada aspek fisik belaka.” Ujar Mustafa Abu Bakar.
Musatafa Abu Bakar juga menambahkan “dalam kaitan itu, patut pula kita waspadai dampak genjarnya pembangunan fisik terhadap aspek budaya dan bahkan inilah saat yang tepat kita lakukan introspeksi dan evaluasi terhadap kondisi mutakhir kebudayaan Aceh, terutama sejak masuk sentuhan asing” tambahnya.
Dalam senimar ini juga dihadiri oleh Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh – Nias Kuntoro Mangkusubroto yang bertindak selaku keynote speaker dalam seminar ini mengatakan “ Kemajuan sangat besar telah dicapai di Aceh selama 4 tahun terakhir semenjak kami ditugaskan oleh presiden menugaskan kami di BRR. Kita semua bisa menyaksikan kemajuan pesat telah dicapai oleh Aceh Nias, semua mustahil terwujud tanpa perjuangan keras dari 600 lembaga nasional dan internasional yang mewakili lebih 50 negara sahabat. Untuk penghargaan saya yang setingginya kepada seluruh pelaku rekontruksi yang sudah berusaha dengan keras menghadapi segala tantangan” ujar Kepala BRR ini.
Seminar ini bertujuan agar pembangunan Aceh pasca BRR bisa belanjut dengan berbagai pembangunan yang tidak meninggalkan kebudayaan Aceh. Pengalihan tugas ini dari BRR ke Pemerintah Aceh ini diharapkan semua pihak terkait dapat berperan Aktif untuk mewujudkan pembangunan Aceh yang berbudaya dan bermartabat ke depan.(put)


Leave a Reply