Banda Aceh – Rabu, 26 November 2008, media local Aceh berkunjung ke ACSTF, yang bersekrertariat di Jalan Merak, No.46D Neushu Jaya, Banda Aceh, dalam rangka diskusi interaktif dengan pengurus lembaga pers mahasiswa yang ada di Aceh. Kegiatan ini di inisiasi oleh ACSTF (Acehnes Civil Society Task Force) sebuah lembaga swadaya masyarakat yang konsen terhadap isu perdamaian serta penguatan masyarakat sipil di Aceh.
Diskusi interaktif itu berlangsung selama kurang lebih dua jam dan berlangsung alot. Lima belas mahasiswa dari UKM Pers Kampus dari tiga Universitas di Aceh, memadati ruangan Prof. Dr. Isa Sulaiman, sebagai tempat berlangsungnya kegiatan tersebut. Sedangkan media local yang hadir pada saat itu adalah Harian Aceh, Aceh Kini, Radja Post, dan Modus Aceh. Walaupun demikian, semangat teman – teman mahasiswa sangat antusias dalam share dan diskusi yang dilaksanakan pagi hari itu.
Pimpinan Redaksi Aceh Kini, Suwardi AS mengatakan, bahwa media pers kampus yang ada di Aceh saat ini sangatlah berbeda pada zaman Orba dahulu. Kebebasan kepada mahasiswa yang diberikan pasca Reformasi 1998 membuat dampak buruk bagi UKM Pers yang ada disetiap Universitas, khususnya di Aceh. Pasalnya, kelemahan mahasiswa dalam menjalankan organisasi pers kampus sangatlah sakral, karena hal ini bukan disebabkan oleh tekanan dari luar, melainkan dari mahasiswa yang tidak mempunyai semangat perubahan, imbuhnya.
Tak layak dikatakan mahasiswa ketika, salah satu element dari masyarakat itu tidak dapat memberikan kontribusi yang nyata didalam tatanan kehidupannya sendiri. Fungsi mahasiswa sebagai control social yang sangat diperlukan bagi berkesinambungannya masyarakat yang sejahtera dan madani adalah penting baginya untuk selalu memiliki vitalitas yang tinggi serta mewujudkan perubahan yang akan dirasakan oleh seluruh element masyarakat. Hal serupa juga dikatakan oleh Redaktur Pelaksana dari Harian Aceh, dia menegaskan bahwa sangat resikan, saat mahasiswa menyebutkan tak satu pun lembaga pers mahasiswa dapat mempengaruhi kebijakkan apalagi memberikan dorongon kepada pihak rektorat dalam membuat kebijakkan.
Aryos Nivada selaku Program Officer, mengakui kelemahan pers mahasiswa saat ini dilatarbelakangi oleh tidak adanya peranan yang konkrit dari mereka untuk melakukan suatu wujud untuk perubahan, Pers kampus dianggap hanya sebagai organisasi internal kampus, yang consent terhadap pemberitaan dari peristiwa – peristiwa disekelilingnya. Dan ketika peristiwa tidak ada disekeliling kampus, maka gerakan mahasiswa pers kampus mati suri, selama kembalinya peristiwa yang akan diliput. Oleh sebab itu, penting adanya sebuah diskusi interaktif seperti ini untuk membuka cakrawala berpikir serta share permasalahan yang pernah dihadapai agar kedepan, pers kampus menjadi kanal baru bagi perjuangan gerakan mahasiswa.(bbn)


Leave a Reply