beranda » Berita

Mahasiswa Harus Berperan Dalam Perdamaian

Sunday, July 26, 2009 WIB

Matang Geulumpang dua – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Almuslim Universitas Almuslim menggelar seminar sehari yang bertemakan “ Peran CSO dan Mahasiswa dalam mengisi perdamaian yang dipusatkan di Kampus Almuslim Bireuen sabtu (25/7), kegiatan ini sendiri LPM Suara Almuslim bekerja Sama dengan Achenese Civil Society Task Force (ACST) dalam monitoring kegiatan Forum Komunikasi Masyarakat Sipil di daerah Kabupaten Bireuen.

Seminar sehari ini, dibuka oleh pembantu rektor tiga Universitas Almuslim, Syarkawi, M.Ed dalam sambutannya mengaharapkan Mahasiswa sebagai kaum intelektual khususnya di Kampus Almuslim harus berperan aktif dalam mengisi perdamaian yang sudah berlangsung selama 4 tahun ini , semua yang hadir disini baik mahasiswa, nelayan, aktivis dan semua elemen masyarakat harus mengisi perdamaian ini jangan sampai terjadi konflik kembali.
Dalam seminar sehari ini diisi oleh pemateri dari akademisi, yaitu dekan fakultas Sosiologi dan ilmu Politik Universitas Almuslim, Drs. Muzakkar, SH. MSi pada kesempatan itu memaparkan Perdamaian berarti sebelumnya ada konflik, itu di karenakan adanya perbedaan kepentingan, maka timbullah persengketaan. Peran masyarakat sipil dengan mahasiswa harus memberi pedoman dalam konteks kemasyarakan, dan mahasiswa juga harus actif dan membentuk lembaga social untuk memberikan tindakan positif mahasiswa kepada masyarakat.

Dalam hal ini beliau juga menegaskan, kemanapun dan dimanapun kita berkecimpung dalam suatu daerah, kita harus bisa mengetahui background suatu daerah tersebut. Di Aceh khususnya yang merupakan suatu daerah yang sangat bersejarah maka dari itu kita sebagai masyarakat aceh harus bisa selalu menjaga perdamaian ini, karena pengalaman sejarah silam, bahwasanya peran kita orang aceh sangat berpengaruh bagi Negara Indonesia dan beberapa tokoh-tokoh nasional juga memberikan keistimewaan bagi orang aceh. Dalam hal perdamaian mahasiswa sangat berperan untuk menciptakan perdamaian yang hakiki dan mahasiswa juga harus menjadi pusat kekuatan pemikiran untuk menciptakan perdamaian kedepan” tegas beliau.

Namun ketika ditanya oleh peserta mengenai peran pemuda dalam mengisi perdamain serta konsep apa untuk menjaga perdamain Muzakkar menjelaskan” Jangan biarkan pemuda it uterus-terusan menjadi pemuda namun kita harus bisa mengajak mereka untuk menjadi mahasiswa. Konsep –konsep yang harus diterapkan yaitu harus adanya perubahan dari generasi ke generasi, dan moderisasi konsep untuk bisa menyesuaikan dengan keadaan dan lingkungan.” Jelas Dekap fisip tersebut.

Disesi selanjutnya pemateri kedua Juanda Djamal dari ACSTF. Dalam paparannya beliau mengatakan yang bahwasanya aceh merupakan sangat banyak kekuatan untuk membangun negeri ini, dari pengakuan dunia, dengan latar belakang bencana yang terjadi di Aceh maka pembangunan di Aceh hampir 90 % lebih mencapai rekontruksi dan rehabilitasinya. Beliau juga mengungkapkan dalam membangun suatu daerah khususnya di Aceh, kita harus membuat perencanaan (planning)/ scenario untuk bisa melihat kedepan apa yang seharusnya bisa kita berikan kedepan untuk negeri ini. Karena dengan adanya potensi yang ada pada masyarakat aceh” jelas Juanda.

Kemudian Juanda menambahkan “Harapan dan cita-cita aceh baru, Mengharmonisasi kehidupan masyarakat agar dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan aceh baru. Dengan strategi pendekatan yaitu melalui pembangunan zona (zoning), dan potensi unggulan serta harus selalu didukung oleh pengembangan sumber daya manusia dan penyediaan infastruktur” Tambah Sec-Gen Achenese Civil Society Task Force itu.

Ketika ditanya mengenai keberhasilan perdamaian yang sudah di capai dan factor penghambat perdamaian, Juanda menerangkan “yang menghambat perdamaian adalah kita sendiri, dalam hal ini dia juga menegaskan bahwasanya proses perdamian di aceh merupakanbn tanggung jawab kita bersama untuk bisa menjaganya oleh karena itu kita harus mulai mengubah dari diri kita pribadi. Generasi kita sekarang harus bisa menciptakan dan menyatukan gagasan.” Tegasnya.
Muhajir, selaku pimpinan umum LPM Suara Almuslim Universitas Almuslim, berharap dengan diadakan seminar tersebut, mahasiswa kembali menemukan ruhnya dan kembali menjadi social control ditengah-tengah masyarakat.

Menurut salah satu mahasiswa bahasa Inggris tersebut, perdamaian yang lahir di Aceh bukanlah hadiah yang didapatkan dengan mudah. namun, merupakan perjuangan panjang dan telah merenggut hamper semua wajah ceria mahkluk ciptaan tuhan yang terlahir dan tinggal di bumoe lada sicupak ini.
“ mahasiswa harus kembali menemukan jati dirinya yang telah hilang. Kita sebenarnya bisa menjadi control social yang mempunyai pengaruh besar.saya berharap, dengan diadakan seminar ini, kita kembali sadar bahwa perdamaian sangat berharga” ungkapnya.

Hal yang sama juga di ungkapkan oleh Syahirul Alim selaku koordinator tim jaringan ACSTF. Menurut lelaki berperawakan sedang tersebut, perdamaian yang telah terwujud di Aceh, haruslah dijaga dan dipupuk dengan baik.
“ perdamaian yang telah ada jangan disalah gunakan. Gunakan suasana damai ini untuk membangun Aceh Baru yang bermartabat” sebutnya di akhir pertemuan.

Leave a Reply