PRESS RELEASE
Achehnese Civil Society Task Force – ACSTF
ISU TERORIS BERPELUANG CEDERAI DAMAI ACEH
Penggerebekan dan penangkapan “teroris” di Aceh Besar, kemudian dilanjutkan dengan pengepungan kawasan yang diidentifikasi sebagai areal latihan teroris, telah cukup mengusik rasa damai rakyat Aceh. Aksi swiping kenderaan bermotor dan juga rumah-rumah penduduk, telah mengembalikan ingatan penduduk sekitar akan kondisi masa konflik. Rakyat Aceh yang baru saja merasakan jeda konflik kekerasan dan sedang semangatnya berbenah dan menikmati 5 tahun terakhir tanpa konfrontasi bersenjata, kembali merasa was-was dengan nasib keberlanjutan damai Aceh yang masih muda.
Sebagaimana pemberitaan oleh Harian lokal dan nasional yang beredar di Aceh, sejak 26 Februari 2010 hingga hari-hari seterusnya memberitakan kegiatan latihan berperang kelompok bersenjata yang tidak dikenal di kawasan Jalin, Jantho, Aceh Besar, penggerebekan oleh aparat keamanan yang berujung pada tertembaknya warga sipil yang tidak ada sangkut pautnya dengan target sasaran operasi polisi yang memburu kelompok tersebut, hingga penangkapan beberapa orang yang menurut pihak keamanan adalah anggota teroris.
Banyaknya isu yang berkembang makin mencemaskan sebagian rakyat Aceh. Mulai dari pernyataan pihak keamanan yang sangat cepat berubah-ubah (misal terkait identitas pelaku, awalnya dikatakan Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Edward Aritonang pada Jumat (26/2) mengatakan, jumlah tersangka teroris yang melakukan pelatihan militer di Aceh (yang sudah ditangkap) menjadi lima orang, diduga kuat sebagian di antaranya berasal dari Timur Tengah, yang kemudian pada akhirnya dikatakan asal teroris bukan dari Timur Tengah, melainkan Pandenglang, Jawa Tengah). Juga terkait jumlah dan wilayah yang diduga terdapat “teroris” makin meluas. Awalnya dikatakan daerah basis / konsolidasi para teroris di Aceh Besar, akan tetapi diberitakan Harian Lokal Aceh (2/3/2010) juga terendus kegiatan para “teroris” di Kabupaten Bireun.
Kondisi ini tentu saja bisa mencederai perdamaian Aceh. Karena layaknya operasi keamanan, efek bawaannya akan melakukan sweeping intens ke kampung-kampung. Rasa trauma masyarakat akan kembali “bangun”. Kemudian kejadian “salah tembak” yang hanya ditutup dengan minta maaf kepada keluarga tanpa ada indikasi tindakan lanjutan untuk proses hukum bagi pelaku dan upaya tanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup keluarga korban. Kiranya ini sangat menyakitkan bagi keluarga korban.
ACSTF, sebagai lembaga swadaya masyarakat yang konsern mendorong keberlangsungan perdamaian Aceh meminta dan menekankan kepada kepolisian untuk lebih segera mengungkap tabir isu teroris di Aceh yang simpang siur sehingga menimbulkan multitafsir dalam masyarakat. Kami menilai pendekatan penggeledahan rumah-rumah dalam pemukimanan masyarakat ini haruslah lebih selektif dan jangan asal geledah sehingga berdampak negatif bagi kondisi dan psikologis warga.
ACSTF juga meminta Pemerintahan Aceh dapat mengambil sikap untuk memberikan pemahaman yang lebih benar tentang isu teroris Aceh, agar keresahaan masyarakat tidak berkelanjutan. Serta juga mengeluarkan kebijakan khusus untuk penanganan pola-pola aksi dan penyelesaian kasus seperti ini agar tidak berlarut dan mengganggu damai Aceh.
Keresahan ACSTF jika pengungkapan identitas dan entitas pelaku yang diduga teroris ini berlarut, bisa mengakibatklan saling tuduh antara Kepolisian dan mantan kombatan GAM yang bisa saja dijadikan kambing hitam dibelakang kejadian ini. Hal tersebut sangat berbahaya dan bisa memicu konflik baru di Aceh. Jika Pemerintah Aceh juga lamban mengambil langkah-langkah untuk sikap politik yang lebih berperspektif damai, bisa berimplikasi lahirnya kebijakan penanganan yang rentan mengganggu keberlanjutan damai Aceh.
Untuk itu, ACSTF meminta semua pihak di Aceh untuk mewaspadai isu teroris dan tidak menelan mentah-mentah argument yang disampaikan berbagai pihak terkait isu tersebut. Harus selalu ada kelompok kritis dalam masyarakat untuk menyorot secara intens pola-pola kasus seperti itu. Jangan sampai kecurigaan public bahwa ini hanyalah akal-akalan pihak yang berkepentingan untuk menjadikan Aceh kembali merah darah dengan konflik baru, lalu mengeruk kepentingan diatasnya, benar adanya.
Banda Aceh, 3 Maret 2010
T. Banta Syahrizal
Manajer Program


Leave a Reply